Monthly Archives: September 2012

Dosis (Takaran Obat)

DOSIS

Dosis merupakan banyaknya obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk obat dalam maupun luar. Kecuali dinyatakan lain, dosis merupakan dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan, dan rektal.

Ada yang dikenal dengan dosis maksimum (DM) dan ada juga dosis lazim (DL). DM merupakan dosis pemakaian sekali ataupun sehari. Untuk pemberian obat melebihi batas DM itu harus dibubuhi tanda seru, paraf dokter, ataupun digarisbawahi nama obat tersebut. Sedangkan DL merupakan petunjuk yang tidak mengikat tapi digunakan sebagai pedoman umum. Misalnya, Obat CTM (4mg/tablet) dengan DM 40 mg/ hari dan DL 6-16 mg/hari, bila seseorang makan 3 kali sehari 2 tablet, berarti DM belum melampaui. Tapi ini dianggap tidak lazim karena hanya dengan makan 3 kali 1 tablet sehari sudah mencapai efek terapi yang normal.

Macam- macam dosis

  1. Dosis terapi : takaran obat yang diberikan dalam keadaan  bisa dan dapat menyembuhkan penderita.
  2. Dosis minimum : takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi.
  3. Dosis maksimum : takaran obat terbesar yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan.
  4.  Dosis toksik : takaran obat yang diberikan dalam keadaan  bisa yang dapat menyebabkan keracunan penderita.
  5. Dosis letalis : takaran obat yang diberikan dalam keadaan  bisa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita.

Perhitungan dosis

  1. Berdasarkan umur

      Rumus Young (untuk anak < 8 th)

–        Dosis = n(tahun)/n(tahun) +12 X dosis dewasa

      Rumrs Fried

–        Dosis = n(bulan)/150 X dosis dewasa

      Rumus Gaubius (pecahan X dosis dwasa)

–        0-1th = 1/12 X dosis dws

–        1-2th = 1/8 X dosisi dws

–        2-3th = 1/6 dosis dws

–        3-4th = 1/4 X doisis dws

–        4-7th = 1/3 X dosis dws

–        7-14th = 1/2 X dosis dws

–        14-20 = 2/3 X doisis dws

–        21-60th = dosis dws

–        Rumus Bastedo

–        Dosis = n(tahun)/30 X doisis dewasa

      Rumus Dilling

–        Dosis = n(tahun)/20 X dosis dewasa

      Rumus Cowling

–        Dosis = n(tahun)/24 X dosis dewasa

–        N = umur dalam satuan tahun yang digenapkan keatas. Misal pasien 1 tahun 1 bulan dihitung 2 tahun.

  1. Berdasarkan berat badan

      Rumus Clark (Amerika)

–        Dosis = bobot badan (pon)/150 X dosis dws

      Rumus Thremich-Fier (Jerman)

–        Dosis = bobot badan anak (kg)/70 X dosis dws

      Rumus Black (Belanda)

–        Dosis = bobot badan anak (kg)/62 X doisis dws

      Rumus Junkker & Glaubius (paduan umur dan bobot badan)

–        Dosis = % X doisi dws

  1. Berdasarkan luas permukaan tubuh

      Farmakologi

–        Dosis = luas permukaan tubuh anak/1,75 X dosis dewasa

      Rumus Catzel

–        Dosis = luas permukaan tubuh anak/luas permukaan tubuh dewasa X 100 X dosis dewasa

  1. Berdasarkan Jam pemakaian

      FI Satu hari dihitung 24 jam sehingga untuk pemakaian sehari dihitung:

–        Dosis = 24/n X

–        N = selang waktu pemberian

–        Tiap 3 jam = 24/3 X = 8 X sehari semalam:

      Menurut Va Duin: pemakaian sehari dihitung 16 jam, kecuali antibiotik sehari dihitung 24 jam

–        16/3 +1X = 5,3 + 1 = 6,3 dibulatkan 7 X

Kenali obat anda : Metformin

Metformin tersedia dalam metformin HCl dosis sejumlah 500 mg. Metformin merupakan obat derivat senyawa biguanid yang merupakan obat anti diabetik oral. Lebih dari 40 tahun yang lalu berbagai derivat biguanid (misalnya metformin, phenformin, buformin) digunakan dalam berbagai negara untuk pengobatan diabetes tipe 2. Semuanya kecuali metformin telah dihapus dari pasar internasional di tahun 1970 karena terkait resiko tingkat asidosis laktat.

Gambar
Derivat biguanid mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dengan obat derivate sulfonylurea, obat-obat tersebut tidak bekerja dalam perangsangan pelepasan insulin tapi langsung pada organ target.
Mekanisme metformin berupa efek antihyperglikemik masih belum sepenuhnya jelas, namun dapat dimediasi oleh aktivasi hati dan otot adenosin monophosphateactivated protein kinase, yang merupakan regulator utama metabolisme lipid dan glukosa.
Metformin memperbaiki kadar glukosa puasa dan postprandial selama toleransi pengujian glukosa oral, sedangkan respon insulin plasma menjadi glukosa tidak berubah atau mungkin akan menurun dalam pasien dengan hiperinsulinemia.
Efek utama metformin pada pasien dengan diabetes adalah untuk mengurangi produksi glukosa hepatik, terutama dengan menurunkan glukoneogenesis, tetapi mungkin juga, sebagai efek yang lebih rendah, meningkatkan penyerapan glukosa oleh otot rangka.

Diabetes Tipe 2
Diabetes tipe 2 adalah berbeda dari diabetes tipe 1 dalam arti bahwa kemudian terjadi kebanyakan di usia pertengahan yang bertentangan dengan mantan yang terjadi pada saat lahir atau di masa kecil. Selain itu, pada diabetes tipe 2 lemak, hati, dan sel-sel otot tidak merespon dengan benar terhadap insulin. Hal ini disebut resistensi insulin. Akibatnya, gula darah tidak masuk ke sel-sel yang akan disimpan untuk energy.
Meskipun ada banyak obat-obatan yang tersedia saat ini untuk pengobatan diabetes tipe 2, termasuk tipe zaman baru seperti Avandia, Amaryl, Actos, Januvia, Glucatrol, Prandia dan Starlix, metformin masih menjadi yang terbaik di antara obat-obatan untuk banyak alasan yang berbeda. Metformin telah di pasarkan selama lebih dari 15 tahun dan sekarang masih tetap menjadi salah satu obat pengobatan DM tipe 2 yang paling populer di kalangan masyarakat

Metformin HCL
Metformin HCL tidak hanya efektif dalam mengobati diabetes tipe 2 tapi tidak menyebabkan kenaikan berat badan sebagai efek samping. Obat benar-benar dapat membantu seseorang untuk menurunkan berat badan. Karena sebagian besar pasien diabetes tipe 2 yang kelebihan berat badan dan obesitas, penurunan berat badan dengan metformin merupakan efek samping positif atau bonus tambahan dari obat ini. Untuk alasan ini, metformin kadang-kadang diresepkan untuk individu bahkan kelebihan berat badan dan obesitas untuk tidak hanya membantu mereka menurunkan berat badan tetapi juga mencegah mereka dari risiko terkena diabetes di masa depan.

DM (Diabetes Mellitus)

        Diabetes atau yang sering disebut “kencing manis” adalah penyakit yang muncul ketika terjadi gangguan dalam fungsi-fungsi tubuh yang mengatur karbohidrat, lemak, dan protein yang terkandung dalam makanan untuk  menghasilkan energi. Kurangnya jumlah hormon insulin atau kurangnya produksi hormon insulin yang dihasilkan oleh pankreas menimbulkan penyakit ini. 

       Insulin mengatur jumlah gula di dalam darah. Ketidakseimbangan jumlah insulin yang diproduksi dalam tubuh dapat merangsang timbulnya diabetes mellitus. Dalam keadaan normal, kira-kira 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, 5% diubah menjadi glikogen dan kira-kira 30-40% diubah menjadi lemak. Pada diabetes melitus semua proses terganggu, glukosa tidak dapat masuk kedalam sel, sehingga energi terutama diperoleh dari metabolisme protein dan lemak.

        Penurunan berat badan merupakan tindakan yang sangat penting dalam pengendalian diabetes. Usaha penurunan berat badan harus dilakukan secara intensif terlepas dari obat apa yang diberikan Penurunan berat badan merupakan tindakan yang sangat penting dalam pengendalian diabetes. 

Pembagian DM

  1. Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM) atau Diabetes Melitus tergantung Insulin disebabkan oleh destruksi sel β pulau langerhans akibat proses autoimun, biasanya didiagnosa pada anak-anak dan orang dewasa yang berusia kurang dari 30 tahun, meskipun penyakit ini dapat terjadi pada berbagai usia. Diabetes laten autoimun pada dewasa (LADA), yaitu tipe 1 onset lambat atau DM tipe 5, disebabkan karena diatbetes autoimun tipe 1 yang terjadi pada individu yang lebih tua dari usia yang umumnya. Pada tipe ini terdapat destruksi sel-sel beta pankreas sehingga tidak memproduksi insulin lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa menyerap glukosa dari darah. Karena itu kadar glukosa darah meningkat di atas 10 mmol/L, yakni nilai ambang ginjal, sehingga glukosa berlebihan dikeluarkan lewat urin bersama banyak air (glikosuria). Dibawah kadar tersebut, glukosa ditahan oleh tubuli ginjal. Penyebabnya adalah suatu infeksi virus yang menimbulkan reaksi autoimun yang berlebihan untuk menanggulangi virus.  Akibatnya sel-sel pertahanan tubuh tidak hanya membasmi virus, melainkan juga turut merusak atau memusnahkan sel-sel Langerhans. Pada tipe ini faktor keturunan juga memegang peranan. Virus yang dicurigai adalah virus Coxsackie-B, Epstein Barr, morbilli dan virus pamtitis. 
  2. Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) atau Diabetes Melitus tidak tergantung insulin disebabkan kegagalan relatif sel β dan resistensi insulin Lazimnya terjadi pada individu yang berusia diatas 40 tahun dengan insidensi lebih besar pada orang gemuk. DM tipe ini disebabkan oleh proses menua sehingga mengalami penyusutan sel-sel beta yang progresif serta penumpukan amiloid sekitar sel-sel beta. Sel beta yang tersisa umumnya masih aktif, tetapi sekresi insulinnya semakin berkurang. Selain itu kepekaan reseptornya semakin menurun. Hipofungsi sel-sel beta ini bersama resistensi insulin yang meningkat mengakibatkan gula darah meningkat (hiperglikemia). Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Sel β tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya terjadi defisiensi relative insulin. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa, maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain.
  3. Diabetes Melitus Gestasional (DMG) Diabetes yang terjadi selama kehamilan. Umumnya, gejalanya akan sembuh dengan sendirinya setelah proses melahirkan. Terjadi sekitar 2%-5% dari semua kehamilan

Terapi

Penderita diabetes dapat mengendalikan penyakit mereka dengan :

  1. Diet. Makanan perlu dipilih secara seksama, terutama pembatasan lemak total dan lemak jenuh untuk mencapai normalisasi kadar glukosa dan lipida darah. Makanan seharusnya mengandung serat yang tinggi serta rendah lemak dan protein. Buah-buahan dan sayuran yang kaya akan kandungan mineral, vitamin dan antioksidan.
  2. Frekuensi makan. Di samping diet, penting pula membagi secara merata pemasukan kalori sepanjang hari. Hal ini perlu untuk menghindari terlalu meningkatnya kadar gula darah, yang merupakan rangsangan bagi pankreas untuk mensekresi insulin.
  3. Olahraga. Olahraga dapat meningkatkan sensifitas tubuh terhadap insulin dan lebih efektif membakar glukosa.
  4. Berhenti merokok karena nikotin dapat mempengaruhi secara buruk penyerapan glukosa oleh sel.

Pengobatan Secara Farmakologi

Antidiabetik Oral

  • Sulfonilurea

Mekanisme kerja

–       Merangsang pelepasan insulin dari sel β-pankreas

–       Mengurangi kadar glukagon dalam serum

–       Meningkatkan pengikatan insulin pada jaringan target dan reseptor

Obat-obat utama yang digunakan sekarang adalah tolbutamid, dan turunan generasi kedua, gliburid dan glipizid. Diberikan per oral, obat-obat ini terikat pada protein serum, dimetabolisme oleh hati dan diekskresikan oleh hati atau ginjal. Sulfonilurea dapat menembus plasenta dan dapat mengosongkan insulin dari pankreas janin, karena itu perempuan hamil dengan NIDDM seharusnya diobati dengan insulin

  • Biguanid: Metformin

Mekanisme kerja

Biguanida berbeda dari sulfonilurea karena tidak merangsang sekresi insulin. Risiko hipoglikemia lebih kecil daripada obat-obat sulfonilurea. Metformin dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan sulfonilurea. Metformin bekerja terutama dengan jalan mengurangi pengeluaran glukosa hati, sebagian besar dengan menghambat glukoneogenesis. Efek yang penting adalah kemampuannya untuk mengurangi hiperlipidemia (konsentrasi kolesterol LDL dan VLDL menurun dan kolesterol HDL meningkat)

  • Penghambat α-glukosidase

Mekanisme kerja

Dalam duodenum zat ini berkhasiat menghambat enzim glukosidase (maltase, sukrase, glikoamilase) yang perlu untuk perombakan di/polisakarida dari makanan menjadi monosakarida. Dengan demikian pembentukan dan penyerapan glukosa diperlambat, sehingga fluktuasi gula darah menjadi lebih kecil dan nilai rata-ratanya menurun. Tidak seperti obat hipoglikemik oral lainnya, zat ini tidak merangsang pelepasan insulin dari pankreas ataupun meningkatkan kerja insulin di jaringan perifer. Contoh obatnya akarbose, miglitol.

ANTIDIABETIK PARENTERAL

 Insulin

Insulin merupakan protein kecil yang mengandung dua rantai polipeptida yang dihubungkan oleh ikatan disulfida. Disintesis sebagai protein prekursor (pro-insulin) yang mengalami pemisahan proteolitik untuk membentuk insulin dan peptida C, keduanya disekresi oleh sel β-pankreas

Mekanisme Kerja Insulin Insulin yang disekresikan oleh sel-sel β pancreas akan langsung diinfusikan ke dalam hati melalui vena porta, yang kemudian akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Efek kerja insulin yang sudah sangat dikenal adalah membantu transport glukosa dari darah ke dalam sel. Kekurangan insulin menyebabkan glukosa darah tidak dapat atau terhambat masuk ke dalam sel. Akibatnya, glukosa darah akan meningkat, dan sebaliknya sel-sel tubuh kekurangan bahan sumber energi sehingga tidak dapat memproduksi energi sebagaimana seharusnya.

Asma (Ashtma)

Good night dan selamat malam..
Malam ini saya mau membuat postingan tentang asma.
Mulai dari Apa itu asma ? obat-obat yang digunakan dalam pengobatan asma? Dan tanda-tanda orang yang mengidap asma.

DEFINISI
Asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari bahasa yunani yang berarti “sukar bernapas”. Asma adalah suatu penyakit kronik (menahun) yang menyerang saluran pernafasan (bronchiale) pada paru dimana terdapat peradangan (inflamasi) dinding rongga bronchiale sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang mengalami sesak nafas
GEJALA
Gejala asma bersifat episodik, seringkali reversibel dengan/atau tanpa pengobatan.
Gejala awal berupa :
a. batuk terutama pada malam atau dini hari
b. sesak napas
c. napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan napasnya
d. rasa berat di dada
e. dahak sulit keluar.
Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Yang termasuk gejala yang berat adalah:
a. Serangan batuk yang hebat
b. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
c. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
d. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
e. Kesadaran menurun

Jenis-jenis Asma
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu :
a Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.
b. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

PENGOBATAN

1. Teofilin
Indikasi : Pencegahan dan pengobatan asma bronkial, asma bronkitis, asma kardial, emfisema paru.
Sediaan : Asmadex tablet ( produksi Dexa Medica)
Dosis : Dewasa 3x sehari 1-2 tablet; anak 6-12 th, 2-3x sehari ½-1 tablet.

2. Aminofilin (OWA no.1)
Indikasi : Pengobatan dan pencegahan bronkokontriksi reversibel yang berhubungan dengan penyakit asma bronkial, emfisema, dan bronkitis kronik.
Sediaan : Amicain suppo (produksi Nellco), Phyllocontin tablet (produksi Mahakam Beta Farma)
Dosis : Dewasa = 3 kali sehari 1 tablet, anak-anak 6-12 tahun = 3 kali sehari ½ tablet (maksimal 10 tablet per pasien atau penggunaan suppo maksimal 3 suppo perhari, suppositoria digunakan untuk kondisi penderita asma yang mengalami gangguan pada saluran pencernaan misalnya mual atau muntah.
3. Salbutamol (Albuterol)
Indikasi : Asma bronkhial, bronkhitis asmatis dan emfisema pulmonum
Sediaan : Bromosal tablet 2mg atau 4 mg (produksi Harsen)
Asmabet sirup (produksi Rocelia)
Dosis : Anak 2-6 th: 3x sehari (1mg); 6-12 th, 3x sehari (2mg); di atas 12 th dan dewasa, 3-4x sehari 2-4 mg.
Anak 2-6 th: 3x sehari 1- ½ sendok mkn; 6-12 th, 3x sehari 1 sendok mkn; di atas 12 th dan dewasa, 3x sehari 1-2 sendok makan.
4. Metaproterenol
Indikasi : Asma bronkhial, bronkhitis kronis dan emfisema
Sediaan : Alupent tablet (produksi Boehringer Ingelheim)
Dosis : Anak-anak: 1,2 – 1,6 mg/kg BB per hari; Dewasa 3 x sehari1 tablet, pada terapi panjang,dosis dapat dikurangi menjadi 2x sehari.
5. Fenoterol
Indikasi : Asma bronkial, bronkitis obstruktif kronis disertai atau tidak emfisema paru, asma disebabkan suatu gerakan olahraga dan kelainan bronkopulmonari.
Sediaan : Berotec inhalasi (produksi Boehringer Ingelheim)
Dosis : Umum dosis tunggal inhalasi: 0,2-1,0 mg tergantung kualitas nebulisasi.
6. Terbutalin
Indikasi : Asma bronkhial, bronkhitis kronis dan emfisema
Sediaan : Brasmatic tablet, Brasmatic sirup (Darya Varia)
Dosis : Dewasa: 2-3x sehari 1-2 tablet. Anak: 7-15 th: 2xsehari 1 tablet; 3-7 th, 2x sehari ½ tablet.Sirup: 7-15 th; 2-3x sehari 1-2 sendok makan;3-7 th, 2-3x sehari ½-1 sendok takar; di bawah 3 th, 2-3x sehari ½ sendok takar.

Video “Syuting”

Syuting Video “Komunikasi dan Konseling”
Kali ini saya ingi bercerita tentang kisah kami anak-anak apoteker yang sedang mendapatkan tugas membuat video mata kuliah “Komunikasu dan konseling”. Kelompok saya yang personilnya itu ada : kak evel, k ifah, k indra, ekha, k nurul, eri, dan saya.
Kelompok kami mendapatkan tugas untuk membuat video tentang pelayanan kefarmasian di Apotek. Adapun apotek yang kami pilih ada apotek “sinar farma” yang berlokasi di jalan abdul daeng sirua Makassar.
Kami berenam pun segera membuat skema syuting,, dimana kami mengkonsep tiga bagian.

Pada bagian I kami membuat konsep penjelasan penggunaan obat antibiotik yang benar, dimana yang menjadi pemerannya adalah saya dan k ifah.


Di bagian kedua, konsep yang kami coba adalah seorang ibu hamil yang berkonsultasi tentang penggunaan obat yang ama untuk ibu hamil. Diman yang menjadi pemeran adalah k nurul dan k indra.


Di bagian terkahir, konsep yang sangat komplit, yaitu dimulai dari adanya salah peresepan yang dilakukan oleh seorang dokter, dan juga kesalahan dalam pemberian obat oleh seorang apoteker karena adanya kemiripan nama antara pasien yang pertama dan kedua. Adapun pemerannya adalah : k evel, eri, eka, k iva, dan k indra.


The end…ini lah photo kami sebelum berpisah

Kenali Obat Anda : Dextrometorphan

Kali ini saya tertarik membahas tentang obat Dextrometorphan karena maraknya penyalahgunaan obat ini. Obat DMP (Dextrometorphan) tidak berefek analgesik atau bersifat adiktif. Zat ini meningkatkan ambang rangsang reflek batuk secara sentral dan kekuatannya kira-kira sama dengan kodein. Berbeda dengan kodein, zat ini jarang menimbulkan kantuk atau gangguan saluran pencernaan. Toksisitas zat ini sangat rendah sekali, tetapi dosis sangat tinggi mungkin menimbulkan depresi nafas.

Dextromethorphan , adalah obat batuk “over the counter” (OTC) yang disetujui penggunaannya pertama kali pada tahun 1958. OTC artinya dapat dibeli secara bebas, tanpa resep. Walaupun demikian, obat ini hanya boleh dijual di toko obat berizin. Meskipun ada dalam bentuk murni, DMP biasanya berupa sediaan kombinasi. Artinya, dalam satu tablet, selain DMP juga terdapat obat lain seperti parasetamol (antinyeri antidemam), CTM (antihistamin), psuedoefedrin/fenilpropanolamin (dekongestan), atau guafenesin (eskpektoran).

DMP pada dosis besar ia menyebabkan efek euphoria dan efek halusinogen dissociative. Halusinogen dissociative yaitu dibloknya fungsi kesadaran di dalam otak dan saraf sehingga akan membuat si pemakainya berhalusinasi dan merasakan seperti berada di dalam mimpi dan sukar membedakan antara nyata atau tidaknya halusinasi tersebut.  Overdosis DMP  yang lain dapat menyebabkan hiper-eksitabilitas, kelelahan, berkeringat, bicara kacau, hipertensi, dan mata melotot (nystagmus). Penyalahgunaan sediaan kombinasi malah berefek lebih parah. Komplikasi yang timbul dapat berupa peningkatan tekanan darah karena keracunan pseudoefedrin, kerusakan hati karena keracunan parasetamol, gangguan saraf dan sistim kardiovaskuler akibat keracunan CTM. Alkohol atau narkotika lain yang telan bersama DMP dapat meningkatkan efek keracunan dan bahkan menimbulkan kematian.

Penyalahguna DMP menggambarkan adanya 4 plateau yang tergantung dosis, seperti berikut:

 

Plateau

Dose (mg)

Behavioral Effects

1st

100–200

Stimulasi ringan

2nd

200–400

Euforia dan halusinasi

3rd

300– 600

Gangguan persepsi visual dan hilangnya koordinasi motorik

4th

500-1500

Dissociative sedation

 

PUSTAKA :

1. Bag. Farmakologi FK UI. Farmakologi dan terapi Edisi 4. 1995. Jakarta :  FK UI press.

2. http://yosefw.wordpress.com/2011/10/05/pil-koplo-dmp-salah-satunya/

3. http://zulliesikawati.wordpress.com/2009/03/15/mengapa-dekstrometorfan-sering-disalahgunakan/